Memilih dan Memilah Prinsip Pembelajaran IPA SD yang Berprinsip
pada Pendekatan Konstruktivisme
1. Pengertian
Pendekatan KonstruktivismeTeori Konstruktivisme didefinisikan
sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu
makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan
gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan
himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang
mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis.Konstruktivistik merupakan landasan
filosofi yang meyakini bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi
sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara
tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta konsep atau kaidah yang siap
untuk diambi dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan
memberi makna melalui pengalaman nyata (Nurhadi, 2002:10-11). Sedangkan Suparno
(1997:28) mengatakan konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan adalah hasil
konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi
dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan. Suatu pengetahuan dianggap
benar bila pengetahuan itu dapat berguna untuk menghadapi dan memecahkan
persoalan atau fenomena yang sesuai.
Dua tokoh konstruktivis adalah Piaget
dan Vygotsky. Piaget yang dikenal dengan konstruktivis radikal, sedangkan
Vygotsky dikenal dengan konstruktivisme sosial. Menurut Piaget (dalam dahar
1988:181), perkembangan intelektual anak didaarkan pada dua fungsi yaitu
organisasi dan adaptasi. Model konstruktivis Piaget dalam mengajar, hendaknya
memperhatikan 8 hal berikut :1. Siapkanlah
benda-benda nyata yang digunakan siswa2. Pilihlah
pedekatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak3. Perkenalkan
kegiatan yang layak dan menarik dan berilah para siswa untuk menolak
saran-saran guru4. Tekankan
penciptaan pertanyaan-pertanyaan dan massalah-masalah seta pemecahannya.5. Anjurkan
para siswa untuk saling berinteraksi6. Hindari
istlah-istilah teknis dan berfikir7. Anjurkan
para siswa berfikir dengan cara mereka sendiri8. Perkenalkan ulang
materi dan kegiatan yang sama dalam beberapa tahun.Implikasi teori Piaget dalam pembelajaran1. Memusatkan
perhatian pada proses berfikir anak, bukan sekedar pada hasil2. Menekankan
pada pentingnya peranan siswa dalam berinisiatif sendiri dan keterlibatan
secara aktif dalam pembelajaran3. Memaklumi adaya
perbedaan individual dalam kemajuan perkembangan.Sedangkan teori Vygotsky menekankan pada
hakikat sosiokultural dari pembelajaran yaitu siswa belajar menangani
tugas-tugas yang dipelajari melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman
dewasa. Implementasi teori Vygotsky dalam pembelajaran:1. Pembelajaran
kooperatif antar siswa tertata dengan baik2. Pendekatan
Vygotsky dalam pembelajaran menerapkan scafolding yaitu pemberian sejumlah
besar bantuan pada siswa pada awal bantuan pembelajarn, kemudian siswa
mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya.3. Memaklumi
adanya perbedaan perbedaan individu dalam hal kemajuan pemahaman.
Konstruktivisme bukanlah satu konsep
baru. Ia berasal daripada bidang falsafah dan telah digunakan dalam bidang
sosiologi dan antropologi dan juga dalam bidang psikologi kognitif dan
pendidikan. Pada tahun 1710, ahli falsafah konstruktivis yang pertama, yaitu
Giambatista Vico, mengatakan … “one only knows something if one can explain
it” (Yager, 1999).Pembelajaran
bermakna (meaningful learning), mengikut John Dewey (1966), melibatkan “belajar
dengan membuat” (learning by doing), yang kemudiannya dapat membantu
pelajar berfikir dan membentuk kefahaman tentang masalah yang cuba dihuraikan.
Dewey mempelopori gerakan “progresivisme” dalam pendidikan. Dalam keadaan yang
sama, kita menyaksikan Jean Piaget (1951) lebih awal mengutarakan tentang
perkembangan kognitif dalam karya terjemahan, “Play, Dreams and Imitation in
Childhood” dan Vygotsky (1978) dalam “Mind in Society” yang dikaitkan
dengan perspektif konstruktivisme dalam perkembangan minda kanak-kanak. Sejak
satu setengah dekad yang lampau, di Amerika Serikat pengajaran dan buku teks
telah diolah agar lebih menjurus kepada penggalakan proses berfikir,
menyelesaikan masalah dan membina keupayaan untuk belajar. Inilah gerakan
konstruktivisme yang sudah dilaksanakan di Amerika Syarikat, yang juga
mengambil kira pemikiran Dewey dan Bruner. Dalam konteks tempatan, kita
menyaksikan gerakan ini sudah bermula dalam pembelajaran sains dan matematik
yang cuba menyemarakkan perspektif konstruktivisme.Pendekatan
konstruktivisme memiliki beberapa konsep umum, antara lain:1. Pelajar
aktif membina pengetahuan berdasarkan pengalaman yang sudah ada.2. Dalam
konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.3. Pentingnya
membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling
mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.4. Unsur
terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara
aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah
ada.5. Ketidakseimbangan
merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila
seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan
pengetahuan ilmiah.6. Bahan
pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar
untuk menarik miknat pelajar.
Konsttruktivisme
mempunyai lima fase, yaitu:1. Guru
menerka pengetahuan sedia ada murid pada permulaan sesuatu pelajaran melalui
soal jawab atau ujian.2. Guru
menguji ide atau pendirian murid melalui aktivitas yang menjabar ide atau
pendiriannya.3. Guru
membimbing murid menstruktur semula ide.4. Guru
memberi peluang kepada murid mengaplikasikan ide baru yang telah diperoleh
untuk menguji kebenarannya.5. Guru
membimbing murid membuat refleksi dan perbandingan ide lama dengan ide yang
baru diperoleh.
Menurut
paradigma baru pendidikan peran guru harus diubah, yaitu tidak sekedar
menyampaikan materi pelajaran kepada para siswanya, tetapi harus mampu menjadi
mediator dan fasilitator.Fungsi
mediator dan fasilitator dapat dijabarkan dalam beberapa tugas sebagai berikut:1. Menyediakan pengalaman belajar
yang memeungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan
penelitian. Karena itu memberi ceramah bukanlah tugas utama seorang guru.2. Menyediakan atau memberikan
kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk
mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka
(Watt & Pope, 1989).3. Memonitor, mengevaluasi, dan
menunjukkan apakah pemikiran si siswa jalan atau tidak. Guru menunjukkan dan mempertanyakan
apakah pengetahuan siswa itu berlaku untuk menghadapi persoalan baru yang
berkaitan. Guru membantu mengevaluasi hipotesis dan kesimpulan siswa. (Suparno,
1997).
Agar
peran dan tugas tersebut berjalan dengan optimal, diperlukan beberapa kegiatan
yang perlu dikerjakan dan juga beberapa pemikiran yang perlu disadari oleh
pengajar.1. Guru
perlu banyak berinteraksi dengan siswa untuk lebih mengerti apa yang sudah
mereka ketahui dan pikirkan.2. Tujuan
dan apa yang akan dibuat di kelas sebaiknya dibicarakan bersama sehingga siswa
sungguh terlibat.3. Guru
perlu mengerti pengalaman belajar mana yang lebih sesuai dengan kebutuhan
siswa. Ini dapat dilakukan dengan berpartisipasi sebagai pelajar juga di tengah
pelajar.4. Diperlukan
keterlibatan dengan siswa yang sedang berjuang dan kepercayaan terhadap siswa
bahwa mereka dapat belajar.5. Guru
perlu mempunyai pemikiran yang fleksibel untuk dapat mengerti dan menghargai
pemikiran siswa, karena kadang siswa berpikir berdasarkan pengandaian yang
tidak diterima guru. (Suparno, 1997).
2. Pembelajaran
dan Pengajaran KonstruktivismePembelajaran
dan pengajaran menggunakan pendekatan konstruktivisme boleh dilaksanakan dengan
memberikan perhatian kepada perkara-perkara berikut:• Memberi
peluang kepada pelajar mengemukakan pandangan tentang sesuatu konsep.• Memberi
peluang kepada pelajar berkongsi persepsi antara satu sama lain.• Menggalakkan
pelajar menghormati pandangan alternatif rakan mereka.• Menghormati
semua pandangan pelajar dan tidak memandang rendah terhadap pandangan mereka.• Melaksanakan
pengajaran berpusatkan pelajar.• Menyediakan
aktiviti-akativiti berbentuk “hands on” dan “minds on”.• Mementingkan
kemahiran saintifik dan kemahiran berfikir di kalangan pelajar.• Menggalakkan
pelajar merenung kembali proses pembelajaran yang dilaluinya.• Meminta
pelajar menghubungkait idea asal dengan idea yang baru dibina.• Menggalakkan
pelajar mengemukakan hipotesis.• Tidak
menyampaikan maklumat secara terus kepada pelajar.• Memberi
peluang pelajar berinteraksi dengan guru dan peljar-pelajar lain.• Memberi
perhatian kepada keperluan, kebolehan dan minat pelajar.• Menggalakkan
pelajar bekerja dalam kumpulan.(Ramlah
& Mahani, 2002)
3. Prinsip-prinsip
pembelajaran KonstruktivismePrinsip-prinsip
kontruktivisme banyak digunakan dalam pembelajaran sains dan matematika.
Prinsip-prinsip yang diambil adalah:(1) pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial,(2) pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari guru ke siswa, kecuali hanya dengan keaktifan
siswa sendiri untuk menalar,(3) murid
aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
menuju konsep yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah,(4) guru
sekadar membantu penyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi siswa
berjalan mulus (Suparno, 1997).
4. Prinsip-prinsip
pembelajaran IPA SD
Prinsip-prinsip dalam pembelajaran IPA SD adalah:Prinsip 1: Pemahaman kita tentang dunia di
sekitar kita di mulai melalui pengalaman baik secara inderawi maupun
noninderawi. Karena itu, siswa perlu diberi
kesempatan memperoleh pengalaman itu. Para siswa perlu dibuat agar aktif
melakukan sesuatu agar memperoleh pengalaman.Prinsip 2: Pengetahuan
yang diperoleh ini tidak pernah terlihat secara langsung, karena itu perlu
diungkap selama proses pembelajaran. Pengetahuan siswa yang diperoleh dari
pengalaman itu perlu diungkap di setiap awal pembelajaran.Prinsip 3:
Pengetahuan pengalaman mereka ini pada umumnya kurang konsisten dengan
pengetahuan para ilmuwan, pengetahuan yang Anda miliki. Pengetahuan yang
demikian Anda sebut miskonsepsi. Anda perlu merancang kegiatan yang dapat
membetulkan miskonsepsi ini selama pembelajaran.Prinsip 4: Dalam setiap
pengetahuan mengandung fakta, data, konsep, lambang, dan relasi dengan konsep
yang lain. Tugas Anda sebagai guru IPA adalah mengajak siswa untuk
mengelompokkan pengetahuan yang sedang dipelajari itu ke dalam fakta, data,
konsep, symbol, dan hubungan dengan konsep yang lain.Prinsip 5: IPA terdiri
atas produk, proses, dan prosedur. Karena itu, Anda perlu mengenalkan ketiga
aspek ini walaupun hingga kini masih banyak guru yang lebih senang menekankan
pada produk IPA saja. Namun, perlu diingat bahwa perkembangan IPA sangat pesat.
Kita tidak mampu mengikuti secara terus-menerus perkembangan itu setiap saat.
Dan, kalaupun mampu, menajdi pertanyaan besar adalah apakah semuanya
disampaikan kepada siswa. Oleh karena itu, akan lebih baik jika siswa dibekali
dengan keterampilan menemukan pengetahuan, yaitu: proses dan prosedur IPA.
Proses menyangkut kegiatan penelitian. Sedangkan prosedur menyangkut metode
ilmiah yang digunakan dalam kegiatan penelitian.5. Belajar IPA dalam paradigma
konstruktivismeDalam paradigma
absolutisme, siswa dianggap tidak memiliki pengetahuan apa pun ketika berada di
awal proses pembelajaran. Ibarat sebuah botol kosong. Sebaliknya, dalam
paradigma konstruktivisme, siswa diakui telah memiliki pengetahuan. Pengetahuan
yang dimiliki sebelum mengikuti proses kegiatan pembelajaran yang sesungguhnya
sering diberi label pengetahun awal siswa. Pengetahuan awal ini diperolehnya
dari sumber-sumber belajar yang tersedia di luar bangku sekolah atau dari
pembelajaran sebelumnya. Seperti juga Anda saat ini, Anda telah memiliki
pengetahuan pembelajaran IPA. Pengetahuan itu Anda peroleh dari berbagai
sumber, termasuk ketika Anda kuliah di program yang lain. Pendek kata, Anda
tidak berawal sebagai botol kosong. Anda telah memiliki konsepsi awal tentang
pembelajaran IPA.
Temuan umum
penelitian dengan perspektif concept learning dapat dirangkum sebagai
berikut. Setiap siswa datang ke pelajaran formal dengan membawa konsepsinya
sendiri tentang fenomena alam. Konsepsi ini, pada umumnya berbeda dengan
konsepsi ilmuwan. Konsepsi semacam ini ternyata tersebar merata menurut usia,
kemampuan, gender, dan bahkan lintas budaya. Konsepsi semacam ini mirip dengan
penjelasan para ilmuwan masa lampau. Konsepsi yang berakar pada pengalaman
pribadi siswa dapat dikatakan sebagai endapan dari pergaulan sehari-hari
termasuk pengajaran sebelumnya. Konsepsi yang dibangun siswa sebelum mengikuti
pembelajaran dapat dikatakan sebagai pengetahuan awal para siswa tentang
fenomena atau kejadian yang akan dipelajari.Pengetahuan yang
telah dimiliki siswa mengarahkan perhatiannya pada satu atau dua hal tertentu
dari seluruh materi yang sedang dipelajari. Dengan demikian, pengetahuan siswa
ini menjadi semacam ‘penyaring’ tentang hal-hal yang harus dipelajari. Selain
sebagai penyaring, pengetahuan yang telah dimiliki juga menentukan bangunan
pengetahuan yang baru dikonstruksi. Pengetahuan Anda tentang pembelajaran IPA
dalam mempelajari sajian buku ini menjadi ‘filter’ untuk menyaring
pengetahuan yang dipelajari dan menjadi salah satu faktor yang kuat dalam
mengkonstruksi pengetahuan baru yang siswa miliki.Proses belajar siswa
sesungguhnya mirip dengan yang dilakukan para ilmuwan IPA, yaitu melalui
pengamatan dan percobaan. Penelitian IPA adalah penelitian empiris. Siswa
Sekolah dasar juga belajar IPA melalui investigasi yang mereka lakukan sendiri.
Jika pengalamannya tidak memadai, maka pemahamannya juga tidap lengkap.
Investigasi merupakan cara normal bagi siswa yang belajar.
Demikian juga,
proses mengajar dalam paradigma konstruktivisme, siswa, seperti anak yang
sedang belajar menaikkan layang-layang, aktif mencari pengetahuan (IPA)
didampingi guru sebagai fasilitator yang juga aktif. Mereka secara bersama-sama
terlibat aktif dalam dialog mencari ’kebenaran’ IPA. Mengajar berarti
memberdayakan, mengajar untuk belajar.Walaupun penerapan tradisi konstruktivis itu
berbeda-beda, namun ada hal-hal yang sama. Ishii (2003) menyajikan kesimpulan
Ernest tentang implikasi pedagogis dari tradisi konstruktivisme, yaitu:1. Peka dan perhatian
terhadap pengetahuan awal siswa yang dibawa sebelum mengikuti pelajaran formal2. Penggunaan konflik
kognitif untuk meremidi miskonsepsi. Tampak seperti membiarkan siswa mengalami
kebingungan dalam berpikir, dan dari sana mereka akan menngembangan
pemahamannya sendiri, atau paling tidak mencari jalan ke luar dari kebingungan.3. Perhatian terhadap
ketakognisi dan strtegi self-regulation. Ini merupakan kosekuensi
dari mengalami konflik kognitif siswa muali berpikir tentang cara berpikir yang
digunakannya, dan menjadi bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri.4. Penggunaan berbagai
macam representasi. Berbagai macam representasi mengahasilkan banyak ‘lorong’
menuju pengetahuan awal siswa.5. Kesadaran bahwa
tujuan siswa belajar itu penting. Di kelas bukan tujuan guru tetapi tujuan
siswa, mereka ingin mengetahui dan tahu manfaatnya.6. Kesadaran akan konteks sosial. Berbagai
jenis pengetahuan muncul dalam berbagai macam kelompok sosial.
Ishii (2003) menawarkan ‘five
guiding principles of constructivism’ yang dapat diterapkan di kelas.1. Posing
problems of emerging relevance to students Dengan fokus pada minat
siswa dan pengetahuan awal sebagai titik awal, siswa menjadi mudah terlibat dan
termotivasi untuk belajar. Pertanyaan-pertanyan yang relevan diberikan kepada
siswa untuk mendorong mereka berpikir dan mempertanyakan apa yang dipikirkan
itu.2. Structuring
learning around primary concepts Ini merujuk pada perancangan
pelajaran di sekeliling ide atau konsep utama, daripada menyajikan berbagai
topik yang terpisah-pisah satu dengan yang lainnya. Menggunakan konsep yang
lebar memungkinkn siswa terlibat dari berbagai perspektif dan kemampuannya.3. Seeking
and valuing students' points of view Prinsip ini memberi kesempatan
mengakses penalaran siswa dan proses berpikirnya. Dengan cara itu, guru dapat menyusup
lebih dalam agar belajar menjadi lebih bearti bagi siswa. Tentu saja Anda
sebagai guru harus siap menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu.4. Adapting
curriculum to address students' suppositionsAdapatasi kurikulum untuk
menghargai gagasan siswa merupakan fungsi dari kebutuhan kognitif pada
tugas-tugas spesifik dan hakikat pertanyaan siswa yang terlibat pada tugas
tersebut.5. Assessing
student learning in the context of teaching Dalam pengajaran
tradisional, konteks belajar sering tidak berhubungan dengan assessment (penilaian). Assessmentyang
autentik mestinya dapat dicapai melalui pengajaran, interaksi antara guru dan
siswa siswa dengan siswa, serta pengamatan tentang tugas-tugas yang
dilaksanakan siswa.
6. Model
Pembelajaran yang Sesuai dengan Prinsip KonstruktivismePembelajaran KoperatifVygotsky (1896-1943)
menjelaskan pembelajaran koperatif sebagai “… group learningactivity
organized on the socially structured exchange of information between learners
in group and in which each learner is held accountable for his or her own
learning and is motivated to increase the learning of others.”Koperatif
berarti bekerja bersama untuk mencapai tujuanbersama. Pembelajaran koperatif
pula ialah penggunaan kumpulan-kumpulan kecil dalam pengajaran supaya pelajar
bekerja bersama-sama bagi memaksimumkan pembelajaran sendiri dan juga
rakan-rakan lain. Dalam kumpulan pembelajaran koperatif, pelajar diberikan dua
tanggung jawab, yaitu mempelajari bahan yang diberikan dan memastikan ahli-ahli
kumpulan juga mempelajari bahan tersebut. Oleh yang demikian, seseorang pelajar
itu berusaha mencapai faedahbagi dirinya dan juga ahli
kumpulannya. Persepsi pelajar dalam pembelajaran koperatif ialah mereka hanya
akan dapat mencapai matlamat pembelajarannya, sekiranya ahli-ahli kumpulan
belajar bersama. Mereka berbincang dan saling membantu antara satu sama lain
untuk memahami dan saling menggalak supaya bekerja bersungguhsungguh Aktiviti
pembelajaran berlaku dalam kumpulan heterogenus, iaitu tidak sama dari segi
kebolehan, minat, bangsa dan agama (Slavin, 1991).Pembelajaran
koperatif biasanya berlaku dalam kumpulan di mana terdapat pelajar cerdas dan
lambat. Dalam aktivitas pembelajaran, pelajar cerdas dikehendaki membantu
pelajar lambat secara bersungguh-sungguh, kerana markah yang diperoleh oleh
setiap individu dalam kumpulan akan menjadi markah kumpulan. Semangat
bekerjasama menjadi semakin tinggi apabila kumpulan ini dikehendaki bertandingdengan kumpulan lain.
Kaedah pembelajaran ini menggunakan idea “scaffolding” dalam teori
perkembangan kognitif Vygotsky, di mana pelajar yang cerdas akan membimbing
pelajar lambat dalam zon perkembangan proksimal.Dalam
pembelajaran kooperatif, pelajar dibahagi-bahagikan kepada kumpulan kecil, di
mana setiap kumpulan ditetapkan objektif pencapaiannya. Pembelajaran
distrukturkan di mana objektif kumpulan hanya boleh tercapai jika semua ahli
kumpulan dapat menyempurnakan tugas yang telah diarahkan guru. Gred akhir
pelajar diperoleh dengan mengambil kira skor individu-individu dalam kumpulan.
Unsur-unsur kumpulan
pembelajaran koperatif adalah seperti berikut:1. Interaksi
bersemuka (face-to- face interaction).2. Saling
pergantungan positif.3. Bertanggungjawab
kepada pembelajaran sendiri.4. Kemahiran
koloboratif perlu supaya ahli-ahli kumpulan dapat berfungsi dengan baik.5. Memastikan
setiap ahli memahami proses kumpulan dan mempelajari dinamika kumpulan.
Menurut Johnson & Johnson (1995:22-23), terdapat lima unsur penting dalam
belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut ini:1. Saling
ketergantungan yang bersifat positif antarsiswa. Dalam belajar kooperatif siswa
merasa bahwa mereka bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan dan terikat satu
sama lain. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya
juga sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok
yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok.2. Interaksi
siswa yang semakin meningkat. Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi
antarsiswa. Hal ini, terjadi dalam hal seorang siswa akan mebantu siswa lain
untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberi bantuan ini akan
berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok
mempengaruhi suksesnya kelompok. Untuk mengatasi masalah ini, siswa membutuhkan
bantuan akan mendapat dari teman sekelompoknya. Interaksi yang terjadi dalam
belajar kooperatif adalah dalam hal tukar menukar ide mengenai masalah yang
sedang dipelajari bersama.3. Tanggung
jawab individual. Tanggung jawab individual dalam kelompok dapat berupa
tanggung jawab siswa dalam hal membentu siswa yang membutuhkan bantuan dan
bahwa siswa tidak hanya sekedar “membonceng” pada hasil kerja teman
sekelompoknya4. Keterampilan
interpersonal dan kelompok kecil. Dalam belajar kooperatif, selain dituntut
untuk mempelajari materi yang diberikan, seorang siswa juga dituntut belajar
bagaimana berinteraksi dengan kelompok lain dalam kelompoknya. . Bagaimana
siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan idemkelompok
akan menuntut keterampilan khusus.5. Proses
kelompok. Belajar kooperatif atidak akan berlangsung tanpa proses
kelompok. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana
mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.Konsep utama dari belajar kooperatif
menurut Slavin (1995:5) adalah sebagai berikut:1. Penghargaan
kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai kriteria yang ditentukan.2. Tanggung
jawab individual, bermakna bahwa suksesya kelompok terantung pada belajar
individual semua anggota keompok. Tanggung jawab ini terfokus dalam usaha untuk
membantu yang lain memastikan setiap anggota kelompok telah siap menghadapi
evaluasi tanpa bantuan orang lain.3. Kesempatan
yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah membantu kelompok dengan
cara meningkatkan hasil belajar mereka sendiri. Hal ini memastikan bahwa sisa
berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah sama-sama tertantang untuk melakukan yang
terbaik dan bahwa kontribusi semua anggota kelompok sangat bernilai.
Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran
Kooperatif
Belajar kooperatif mempunyai beberapa kelebihan.Kelebihan belajar kooperatif menurut
Hill & Hill (1993:1-6) adalah:1. Meningkatkan
prestasi siswa2. Memperdalam
pemahaman siswa3. Menyenagkan
siswa4. Mengembangkan
sikap kepemimpinan5. Mengembangkan
sikap positif siswa6. Mengembangkan
sikap menghargai diri sendiri7. Membuat
belajar secara inklusif8. Mengembangkan
rasa memiliki, dan9. Mengembangkan
keterampilan untuk masa depan.Johnson & Johnson (1994:30)
menyatakan bahwa belajar kooperatif sangat diperlukan karena dengan belajar
kooperatif :1. Siswa
dapat belajar lebih banyak2. Siswa
lebih menyukai lingkungan persekolahan3. Siswa
lebih menyukai satu sama lain4. Siswa
mepunyai penghargaan yang lebih besar terhadap diri sendiri, dan5. Siswa
belajar keterampilan sosial secara lebih efektifMenurut Ibrahim, dkk (2000:16) belajar
kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar daripadadengan belajar
kompetitif dan individualistik. Lebih lanjut, Ibrahim dkk (2000:16-17)
menyatakan bahwa belajar kooperatif dan hubungan yang lebih baik antarsiswa,
dan dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa. Siswa belajar lebih banyak
dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada dari guru. Ratumanan
(2002:42) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam belajar kooperatif
dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual
siswa. Menurut Kardi & Nur (2005:15) belajar kooperatif sangat efektif
untuk memperbaiki hubungan antarsuku dan etnis dalam kelas multibudaya dan
memperbaiki hubungan antarsiswa normal dan siswa penyandang cacat.Johnson & Johnson(1994:44)
menyatakan bahwa belajar kooperatif dapat digunakan dalam setiap jenjang
pendidikan mulai taman kanak-kanak sampai pergururan tinggi, dalam semua
bidang materi dan dalam sebarang tugas. Selain itu, Slavin (1995:4)
menyatakan bahwa belajar kooperatif telah digunakan secara intensif pada
setiap subjek pendidikan, dalam semua jenjang pendidikan dan pada semua jenis
persekolahan di berbagai belahan duniaHal ini mendorong perlunya pelaksanaan
belajar kooperatif dalam pembelajaran. Pelaksanaan belajar kooperatif
sangat diperlukan karena dengan belajar kooperatif dapat diperoleh : (1) siswa
dapat belajar lebih banyak, (2) siswa lwbih mwnyukai lingkungan persekolahan,
(3) siswa lebih menyukai satu sama lain, (4) siswa mempunyai penghargaan yang
lebih besar terhadap diri sendiri, dan (5) siswa belajar ketrampilan social
secara lebih efektif ( Johnson & Johnson,1994 : 30 )Davidson (1991:53-61) memberikan
sejumlah implikasi positif dalam pembelajaran dengan menggunakan strategi
belajar kooperatif, yaitu sebagai berikut :1. Kelompok
kecil member dukungan social untuk belajar2. Kelompok
kecil menawarkan kesempatan sukses bagi semua siswa3. Masalah
idealnya cocok untuk diskusi kelompok, sebab memiliki solusi yang dapat didemonstrasikan
secara objektif.4. Siswa
dalam kelompok dapat membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar
dan prosedur perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki, atau
pembahasan masalah yang brmanfaat.5. Ruang
lingkup mata pelajaran dipenuhi oleh ide-ide menarik dan menantang yang
menantang bila didiskusikan6. Memberi
kesempatan untuk berfikir kreatif, menjelajahi situasi yang tidak terbatas,
untuk melakukan konjektur dan mengujinya dengan data, unuk mengajukan
masalah-masalah yang membangkitkan minat, dan untuk memecahkan maalah yang
tidak rutin.
Selain mempunyai
kelebihan, belajar kooperatif juga mempunyai beberapa kelemahan. Menurut Dees
(1991:411) beberapa kelemahan belajar kooperatif adalah :1. Membutuhkan
waktu yang lama bagi siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum2. Membutuhkan
waktu yang lama untuk guru sehingga kebanyakan guru tidak mau menggunakan
strategi belajar kooperatif.3. Membtuhkan
kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru bias melakukan atau menggunakan
strategi belajar koperatif4. Menuntut
sifat tertentu dari siswa, misalnya sifat suka bekerja sama
Meskipun
belajar kooperatif memiliki kelemahan-kelemahan, namun masih dapat di atasi
atau diminimalisir. Penggunaan waktu yang relative lama dapat diatasi dengan
pemberian lembar kerja siswa (LKS) sehingga siswa dapat bekerja dengan efektif
dan efisien, kelompok dibentuk sebelum pembelajaran dan penggunaan waktu diatur
secara ketat untuk setiap pembelajaran.
Penerapan
belajar kooperatif memang memerlukan ketrampilan khusus dari guru jadi tidak
semua guru yang menerapkan belajar kooperatif. Meskipun demikian guru dapat
dilatih untuk penerapan belajar kooperatif. Sedangkan untuk kelemahan yang
terakhir dapat diatasi dengan sosiologis bahwa manusia tidak dapat hidup
sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Oleh sebab itu siwa perlu bekerja sama
dan berlatih bekerja sam dalam belajar secara kooperatif.
Perencanaan Pembelajaran
Kooperatif
Perencanaan untuk
pembelajaran koopertif ini melibatkan 5 tahapan yaitu:1. Menentukan
tujuan khususAktivitas dalam
pembelajaran kooperatif didesain untuk mencapai tiga tujuan utama yaitu
mengembangkan ketrampilan penemuan (inkuiri), mengembangkan ketrampilan bekerja
sama, dan memperoleh pemahaman yang mendalam terhadap materi2. Merencanakan
pengumpulan informasiPemecahan masalah dari
inkuiri tidak terjadi dalamkekosongan informasi. Siswa memerlukan akses
terhadap informasi yang dapat digunakan untuk mengarahkan usaha mereka.
Pengumpulan informasi dapat berupa mengoleksi buku-buku teks atau bekerjasama
dengan pihak perpustakaan untuk memastikan bahwa sumber-sumber yang
dibutuhkan tersedia3. Membentuk
kelompokPembentukan kelompok
disesuaikan dengan tipe dan jenis pembelajaran kooperatif. Langkah pertama
untuk mencapai tujuan tersebut adalah membentuk kelompok dengan anggota yang
beragam4. Mendesain
aktivitas kelompokPembelajaran kooperatif
membutuhkan tingkat kerjasama yang tinggi. Dalam kelompok, siswa harus bekerjasama
dalm membuat keputusan mengenai peran mereka5. Merencanakan
aktivitas kelompok secara keseluruhanAktivitas ini di desain
agar siswa mengerti tujuan aktivitas dan bentuk hasil yang diharapkan.
Belajar kooperatif mempunyai kelemahan yang disebut dengan efek “free
rider”(Slavin,1995:19). Efek free rider dapat terjadi dalam belajar kooperatif
dimana seorang siswa bekerja keras untuk menyelesaiakn tugas kelompok,
sedangkan siswa yang lain sedang asyik melakukan aktivitas yang lain yang tidak
ditugaskan. Efek free rider dapat diartikan sebagai tindakan membonceng oleh
siswa terhadap kerja teman sekelompoknya. Untuk menghindari efek ini, di
anjurkan dalam satu kelompok, masing-masing anggota kelompok mendapatkan tugas
yang berbeda. Selain itu, pengawasan guru sangat diperlukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar